Senin, 02 April 2012

PENDIDIKAN, PEMBANGUNAN DAN MASA DEPAN BANGSA


Bagaimana kita dapat mengembangkan dan meningkatkan pemahaman bersama kita tentang hal itu, dan secara lebih rinci mengembangkan pemikiran, strategi dan program-program guna melaksanakan pertisipasi aktif kita dalam Pembangunan Nasional. Keempat undang-undang yang merupakan produk zaman Pemerintah Orde Lama  dan diikuti pula oleh Peraturan pemerintah, Surat Keputusan Presiden, Surat Keputusan Menteri, Keputusan Direktur Jendral dan sebagainya yang mana mengatur masalah-masalah Pendidikan di negera kita. Akibat yang ditimbulkan  dan dirasakan ialah adanya berbagai kerancuan dalam kebijakan pengaturan serta pelaksanaan pendidikan, baik yang dilakukan  oleh pejabat negara/Pemerintah, maupun yang dilakukan oleh pihak swasta. Oleh karena itu, undang-undang yang sudah ada dirasakan sangat tidak memadai, maka muncullah berbagai peraturan dan keputusan yang silih berganti, sesuai dengan pergantian pimpinan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, yang sering meresahkan dan menimbulkan gejolak dalam masyarakat. Hal ini memang wajar terjadi, oleh karena masalah pendidikan itu menyangkut kepentingan seluruh warga masyarakat, menyentuh dan meliputi hal-hal yang esensial dalam kehidupan manusia. GBHN 1988 telah menggariskan, bahwa pendidikan nasional yang berdasarkan Pancasila itu “ bertujuan untuk meningkatkan kualitas manusia Indonesia, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berbudi luhur, berkepribadian, berdisiplin, bekerja keras, tangguh, bertanggung jawab, mandiri cerdas dan terapil serta sehat jasmani dan rohani. Kita perlu meningkatkan kualitas manusia harus dimengerti sabagai upaya meningkatkan kapasitas atau kemampuan mereka sebagai naradidik untuk mempengaruhi dan mengatur serta menentukan masa depan mereka sendiri, baik secara individu, maupun secra kolektif, sebagai kelompok masyarakat.            Program pendidikan ataupun kurikulum pendidikan pada prinsipnya secara mendasar harus meliputi keseluruhan aspek manusia ini, sedemikian rupa sehingga keterkaitan dan integritas aspek-aspek manusia itu dapat dikembangkan secara dinamis dan integratif. Dengan demikian, maka pendekatan metode pengajaran kita harus memperhatikan sebagai titik pusat, naradidik kita sebagai manusia yang utuh. Untuk membina dan mengembangkan segala potensinya untuk mencapai  kemanusiaanya yang sejati, kemanusiaan yang sesuai dengan maksud penciptaanya oleh Tuhan Allah.                                                                                                          Oleh karena itu, pendidikan nasional pun seharusnya pertama-tama memeningkatkan tujuan  untuk mencapai kualitas manusia itu sendiri, dan bukannya untuk mencapai tujuan-tujuan pemerintah ataupun tujuan nasional  yang lain daripada tujuan untuk kesejahteraan manusia, khususnya warga negara. Pendidikan nasional sebagai sarana untuk mencapai tujuan pembangunan nasional pada dirinya tidak bertentangan, asal dimengerti, bahwa tujuan pembangunan nasional yang utama adalah tercapainya masyarakat yang adil dan makmur serta sejahtera material dan spiritual, yang berarti demi kepentingan manusia itu sendiri.   nasional sebagai sarana pembangunan nasional bertujuan untuk kesejahteraan umat manusia, khususnya warga negara Indonesia, oleh karena itu harus dijalankannya demi dan dengan mempertimbangkan naradidik sebagai manusia yang seutuhnya.                                                Pendidikan nasional seharusnya juga bisa mengembangkan kebudayaan nasional, bahwa apa yang telah menjadi warisan budaya nasional kita, tidak hanya kita terima begitu saja dan kita lestarikan apa adanya, melainkan kita kembangkan sedemikian rupa sehingga secara dinamis dapat berkembang menjadi kebudayaan nasional yang modern, yang mencerminkan budaya nasional bangsa kita tetapi sekaligus juga mampu bukan saja bersaing dengan kebudayan nasional bangsa-bangsa lain dalam forum internasional, tetapi secara inovatif dan kreatif dapat menyumbangkan secara positif bagi pengembangan budaya antar bangsa. Apa yang dicita-citakan adalah suatu masyarakat yang adil dan makmur, yang merata, serta sejahtera material dan spiritual, yang lestari berdasarkan Pancasila. Industrialisasi pada dirinya tidak selalu membawa keadilan dalam masyarakat, bahkan sejarah dan kenyataan sekarang ini telah membuktikan kebalikannya. Kebudayaan nasional yang berintikan ilmu pengetahuan dan teknologi saja tidak akan membawa masyarakat kita menuju masyarakat yang adil dan makmur serta sejahtera dan spiritual.               Kebudayaan nasional kita haruslah didasarkan dan berintikan warisan budaya bangsa kita sendiri, yang berintikan agama dan kesenian, akan tetapi yang ditopang oleh budaya modern, melalui ilmu dan teknologi. Agama dan kesenian mempunyai dimensi yang lain daripada ilmu dan teknologi. Agama dan kesenian menyentuh nilai-nilai yang terdalam manusia, yaitu nilai-nila ontologis, nilai-nilai aestetis, nilai-nilai emotif. Selain itu perlu juga gereja untuk membina keluarga-keluarga Kristen, dimana pendidikan informal mengambil tempat dan mempunyai peran yang menentukan bagi perkembangan anak-anak kita seterusnya, agar siap memasuki masyarakat modern, yang menuntut sikap mental modern dan etos kerja masyarakat industry maju, yang berdasarkan kebudayaan nasional bangsa kita.                                                                                                                                      
Maka peranan pendidikan dan lembaga-lembaga pendidikan itu sangat besar, bahkan menetukan berhasil dicapai atau tidaknya tujuan bangsa dan negara itu. Dilain pihak, pendidikan nasional seharusnya juga merupakan usaha pengembangan kebudayaan nasional kita. Melalui usaha-usaha pendidikan dan pembangunan nasional sebagai pengamalan Pancasila itu, maka kita berharap akan dapat mencapai cita-cita bangsa Indonesia untuk membangun suatu masa depan bangsa yang lebih gemilang. Masa depan bangsa kita ditentukan pula oleh apa yang kita (sebagai bangsa) lakukan atau tidak kita lakukan sekarang. Untuk mencapai cita-cita dan tujuan Pembangunan Nasional sedemikian itu, maka jelas diperlukan manusia-manusia pembangunan dalam jumlah yang banyak sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan jumlah yang banyak sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan jumlah penduduk negara kita. Manusia- manusia pembangunanitu harus mampu mengembangkan potensi dirinya sendiri serta bersama-sama bertanggung jawab atas pembangunan bangsa. Melalui program- program nasional pendidikan secra terencana , tertib dan teratur serta berkesinambungan malalui suatu system pendidikan nasional. Masyarakat agroindustri yang relative maju dan modern yang berdasarkan Pancasila dapat merupakan alternative masyarakat modern abad ke-21 yang dapat kita tawarkan kepada masyarakat internasional. Hal ini merupakan tantangan bagi seluruh warga masyarakat kita di Indonesia dalam kurun waktu tiga puluh tahun mendatang. Khususnya merupakan tantangan bagi lembaga pendidikan, baik negri maupun swasta, yang menyelenggarakan pendidikan jalur sekolah dari jenjang pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi. Demikian juga lembaga-lembaga sosial lain yang menyelenggarakan pendidikan jalur luar sekolah menghadapi tantangan yang sama.                                                                                                                                              

 Perlu juga bagi pemerintah dan seluruh lembaga-lembaga agama untuk membina keluarga-keluarga, dimana pendidikan  dalam keluarga mempunyai peranan yang menentukan bagi perkembangan anak-anak kita seterusnya, agar siap memasuki masyarakat  modern yang menuntut sikap mental modern dan etos kerja masyarakat indutri maju, yang berdasarkan kebudayaan nasional bangsa kita.                              Kebudayaan nasional modern Indonesia yang sedang dan perlu terus kita kembangkan haruslah didasarkan pada prinsip-prinsip dan nilai-nilai agama (spiritual-religius) serta warisan seni-budaya bangsa Indonesia yang berasal dari daerah-daerah, tetapi yang secara inovatif dan kreatif kita kembangkan, agar unsure-unsur yang dapat memperkaya, mempercepat dan meningkatkan dinamika pembangunan kita perkembangkan. Kerjasama yang nyata, saling mendukung dan menopang dalam skala local maupun nasional dari kelompok agama-agama dan kebudayaan sangat diperlukan dalam rangka kita melanjutkan, meningkatkan, membaharui serta menyegarkan usaha pembangunan nasional bangsa kita melalui program pendidikan nasional kita.




Komentar
Masa depan bangsa Indonesia sebenarnyalah cukup cerah, mengingat akan berbagi potensi sumber daya alam yang sangat kaya meupun banyaknya sumber daya manusia. Dengan perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan Pembangunan Nasional yang baik, yang realitas sesuai dengan jiwa dan alam budaya bangsa Indonesia, dengan program pendidikan nasional yang mengarah kepada pembentukan kelompok generasi professional mandiri, maka bangsa Indonesia dalam abad ke-21 akan mengalami perkembangan yang sesui dengan apa yang dicita-citakan oleh seluruh rakyat, oleh semua warga negaranya. Sebagi umat yang beragama, kita menyadari akan tugas dan tanggung jawab kita kepada Tuhan Yang Maha Esa dan kepada sesama kita manusia. Kita juga menyadari akan kelemahan dan kekurangan kita sebagai manusia. Oleh karena itu, tanpa penyertaan Tuhan Yang Maha Kuasa, Allah Sang Pencipta, Khalik langit dan bumi, Tuhan Yang Maha Kasih, maka segala usaha kita manusia juga akan sia-sia. Kesadaran dan pengakuan sedemikian haruslah mengawali, menyertai dan mengakhiri segala usaha kita dalam hal ini. Diperlukannya kerja sama yang erat antara lembaga pendidikan teologi dengan gereja-gereja yang mendirikan dan mendukungnya serta masyarakat pada umumnya. Dan tak sering kali usaha awal mengalami kesulitan. Kita tidak boleh kalah menghadapi kesulitan. Kesulitan seharusnya memampukan kita dan mendorong kita lebih baik dalam menghadapi pekerjaan dan tugas kita. Kita telah memulai pekerjaan kita ini, bahkan Tuhan sendirilah yang telah mengawali awal kerja kita, dan Tuhan sendiri pulalah yang akan menyelesaikannya. Kita ditantang untuk lebih aktif berpartisipasi dalam karya Tuhan pada bidang pendidikan di masyarakat, bangsa dan negara kita, Indonesia. Kita turut membangun solidaritas sosial yang inklusif, membangun kebersamaan di tengah-tengah perbedaan. Jangan kita menjadi faktor eksklusif yang menunjukkan ciri sektarianisme dalam pergaulan kemasyarakatan. Kita tidak boleh menjadi tamu di tengah bangsa kita.

Kita lanjutkan kerja membangun ekonomi masyarakat yang mengutamakan profesionalisme sebagai sumbangan nyata untuk membangun kebersamaan. Demikian pula usaha-usaha memajukan pendidikan di setiap strata.
Orang Kristen dapat berkiprah secara positif-konstruktif membangun Indonesia baru di setiap tingkatan, baik pada tingkat pengembangan gagasan, pada pembangunan sistem, pembangunan masyarakat dan pada lapangan kehidupan sehari-hari. Alkitab bersaksi bahwa Allah menghendaki kesepadanan kata dengan perbuatan. Itu sebabnya Allah menolak bahkan membenci ibadah, persembahan, korban dan segala yang berkaitan dengan ritus yang tidak disertai dengan praktek keadilan dan kebenaran (Yes. 1:10-17; Amos 5:21-24)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar